identitas Nomor 658 / Tahun XXXIII / Edisi Akhir Maret 2007
Bergulat Merapikan Kampus
Kondisi beberapa sudut kampus kini terlihat berbeda. Lantai tegel, taman bahkan jalan beraspal pun tampak lebih rapi dan bersih. Peran petugas kebersihan tak lepas dari itu semua, meski keberadaan mereka sedikit tersisikan dengan bejubelnya aktivitas kampus.
Dengan tanggap, Primus (18) mengarahkan tongkat pelnya ke lantai siang itu. Ia kemudian mengambil ancang-ancang seakan ingin membalap sebuah kendaraan. Kaki kanannya ia sontakkan, dengan telaten pria asal Flores ini lalu berlari kecil dengan arah sejajar pelataran TPB. Kotoran bekas pijakan sepatu serta debu-debu pada tegel pun seketika hilang, menempel di kain pel yang Ia dorong atau tarik ulur itu.
Tak jauh dari pelataran TPB, terlihat beberapa pria sedang menyiangi rumput di sekitar Gedung Baruga Andi Pettarani. Terik matahari yang menyengat kala itu tak mengurungkan semangat mereka. Dengan cekatan mereka memangkas rumput yang mulai menjulang. Daun-daun berguguran pun mereka bersihkan dan masukkan ke sebuah wadah plastik untuk di buang.
Bila Primus menggunakan seragam oranye lengan pendek setiap bertugas, mereka yang berbekal alat pemotong dan pembersih taman itu diberi seragam coklat berlengan panjang. Warna dan mode seragam itu menandakan tempat dimana mereka bekerja. Meski kedua jenis seragam itu terdapat kesamaan, yakni berstrip oranye tua di lengan dan leher baju.
Syamsul Sija (51) salah seorang yang mendapat posisi di lapangan. Membersihkan, merapikan dan memperindah kawasan Gedung Baruga A Pettarani merupakan tugas yang ia harus geluti sehari-hari. Ia memperoleh pekerjaan ini setelah di pecat dari tempat kerjanya terdahulu yang juga sebagai Cleaning Service (CS). “ Waktu itu saya sakit demam selama seminggu, dan ketika masuk kata atasan saya, saya telah digantikan oleh orang lain,” ungkapnya sedih.
Kini, ia dan anaknya telah terdaftar sebagai salah satu CS Unhas. Dengan upah Rp 425 ribu perbulan, ia mengaku bisa menghidupi keluarganya, terutama membiayai dua orang anak terkecilnya yang sementara duduk di sekolah dasar. Meski gajinya lebih kecil dari tempat kerjanya semula, ia tetap bersyukur dan melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Dalam bertugas, Primus maupun Syamsul ternyata mempunyai kendala yang sama. Bila hujan turun, mereka harus bekerja lebih ekstra. Primus misalnya, saat mengepel lantai yang becek, banyak yang lalu lalang tanpa sengaja mengotori lantai yang baru saja dibersihkan. Begitu pula Syamsul, ia mengakui kalau pekerjaannya ini butuh kesabaran yang lebih. “Terkadang mahasiswa yang lewat meminta izin terlebih dahulu, walau ada juga mahasiswa lewat begitu saja pada bagian yang sedang dikerjakan, tapi itu bukan masalah dan kami berusaha mengerti “ Ujarnya bijak.
Selama delapan jam lebih mereka harus stand by di area yang telah ditentukan. Mengawasai dan juga membersihkan kembali kalau saja ada kotoran lagi yang muncul. Dari itu, seakan terbesit suatu niat yang ingin dicapai. Yakni ada keinginan besar untuk menciptakan citra baru universitas. Dan itu telah pakem bagi mereka, petugas kebersihan.
Di asuh oleh Swasta
Ada 60 lebih personil CS menjaga kebersihan di shift masing-masing tiap harinya. Semuanya di bawahi oleh PT Timur Jaya Utama (TJU), bekerja sama dengan Kepala Satuan Kebersihan Kampus beberapa bulan lalu. Perekrutan CS ini terbilang mudah, TJU Cuma mensyaratkan daftar riwayat hidup, KTP dan alamat lengkap. Hasil dari seleksi TJU kemudian di sampaikan ke rektorat.
“Perekrutan petugas tidak terlalu membutuhkan ijazah pendidikan, asalkan mereka rajin menjalankan tugas, saya rasa sudah cukup,” tandas Fauzi Kepala Satuan Kebersihan Kampus.
Meski di beri upah di bawah Upah Minimum Regional, bukan berarti pengawasan TJU terhadap CS tidak optimal. Terkadang teguran atau sanksi dialamatkan kepada yang lalai melaksanakan tugasnya. Menurut Fauzi, sanksi lisan terkadang diberikan bila kondisi shift yang ditentukan itu terlihat masih kotor. Biasa juga dikarenakan petugas tidak mengenakan seragamnya. Sedangkan pemecatan dilakukan bila teguran tidak diindahkan, mencuri, merusak fasilitas atau berkelahi.
Para CS ini bertugas selama enam hari kerja. Dalam sehari, hanya dua jam waktu mereka untuk beristirahat. Namun, bila ada yang izin, mereka harus mengganti shift mereka. “Petugas bekerja mulai Senin hingga Jumat, sedangkan Sabtu dan Minggu diisi oleh petugas yang izin pada hari kerja dengan alasan tertentu, seperti sakit atau urusan keluarga, “ terang Fauzi.
Kamaruddin, salah seorang CS mengaku senang dengan lingkungan kerjanya, terutama pergaulan dengan teman seprofesinya. Meski upah yang ia terima terasa belum mencukupi, ia tetap berharap kalau TJU atau rektorat menaikkan upah mereka suatu saat nanti.
(Bal/Mch)
Kondisi beberapa sudut kampus kini terlihat berbeda. Lantai tegel, taman bahkan jalan beraspal pun tampak lebih rapi dan bersih. Peran petugas kebersihan tak lepas dari itu semua, meski keberadaan mereka sedikit tersisikan dengan bejubelnya aktivitas kampus.
Dengan tanggap, Primus (18) mengarahkan tongkat pelnya ke lantai siang itu. Ia kemudian mengambil ancang-ancang seakan ingin membalap sebuah kendaraan. Kaki kanannya ia sontakkan, dengan telaten pria asal Flores ini lalu berlari kecil dengan arah sejajar pelataran TPB. Kotoran bekas pijakan sepatu serta debu-debu pada tegel pun seketika hilang, menempel di kain pel yang Ia dorong atau tarik ulur itu.
Tak jauh dari pelataran TPB, terlihat beberapa pria sedang menyiangi rumput di sekitar Gedung Baruga Andi Pettarani. Terik matahari yang menyengat kala itu tak mengurungkan semangat mereka. Dengan cekatan mereka memangkas rumput yang mulai menjulang. Daun-daun berguguran pun mereka bersihkan dan masukkan ke sebuah wadah plastik untuk di buang.
Bila Primus menggunakan seragam oranye lengan pendek setiap bertugas, mereka yang berbekal alat pemotong dan pembersih taman itu diberi seragam coklat berlengan panjang. Warna dan mode seragam itu menandakan tempat dimana mereka bekerja. Meski kedua jenis seragam itu terdapat kesamaan, yakni berstrip oranye tua di lengan dan leher baju.
Syamsul Sija (51) salah seorang yang mendapat posisi di lapangan. Membersihkan, merapikan dan memperindah kawasan Gedung Baruga A Pettarani merupakan tugas yang ia harus geluti sehari-hari. Ia memperoleh pekerjaan ini setelah di pecat dari tempat kerjanya terdahulu yang juga sebagai Cleaning Service (CS). “ Waktu itu saya sakit demam selama seminggu, dan ketika masuk kata atasan saya, saya telah digantikan oleh orang lain,” ungkapnya sedih.
Kini, ia dan anaknya telah terdaftar sebagai salah satu CS Unhas. Dengan upah Rp 425 ribu perbulan, ia mengaku bisa menghidupi keluarganya, terutama membiayai dua orang anak terkecilnya yang sementara duduk di sekolah dasar. Meski gajinya lebih kecil dari tempat kerjanya semula, ia tetap bersyukur dan melakukan tugasnya dengan penuh tanggung jawab.
Dalam bertugas, Primus maupun Syamsul ternyata mempunyai kendala yang sama. Bila hujan turun, mereka harus bekerja lebih ekstra. Primus misalnya, saat mengepel lantai yang becek, banyak yang lalu lalang tanpa sengaja mengotori lantai yang baru saja dibersihkan. Begitu pula Syamsul, ia mengakui kalau pekerjaannya ini butuh kesabaran yang lebih. “Terkadang mahasiswa yang lewat meminta izin terlebih dahulu, walau ada juga mahasiswa lewat begitu saja pada bagian yang sedang dikerjakan, tapi itu bukan masalah dan kami berusaha mengerti “ Ujarnya bijak.
Selama delapan jam lebih mereka harus stand by di area yang telah ditentukan. Mengawasai dan juga membersihkan kembali kalau saja ada kotoran lagi yang muncul. Dari itu, seakan terbesit suatu niat yang ingin dicapai. Yakni ada keinginan besar untuk menciptakan citra baru universitas. Dan itu telah pakem bagi mereka, petugas kebersihan.
Di asuh oleh Swasta
Ada 60 lebih personil CS menjaga kebersihan di shift masing-masing tiap harinya. Semuanya di bawahi oleh PT Timur Jaya Utama (TJU), bekerja sama dengan Kepala Satuan Kebersihan Kampus beberapa bulan lalu. Perekrutan CS ini terbilang mudah, TJU Cuma mensyaratkan daftar riwayat hidup, KTP dan alamat lengkap. Hasil dari seleksi TJU kemudian di sampaikan ke rektorat.
“Perekrutan petugas tidak terlalu membutuhkan ijazah pendidikan, asalkan mereka rajin menjalankan tugas, saya rasa sudah cukup,” tandas Fauzi Kepala Satuan Kebersihan Kampus.
Meski di beri upah di bawah Upah Minimum Regional, bukan berarti pengawasan TJU terhadap CS tidak optimal. Terkadang teguran atau sanksi dialamatkan kepada yang lalai melaksanakan tugasnya. Menurut Fauzi, sanksi lisan terkadang diberikan bila kondisi shift yang ditentukan itu terlihat masih kotor. Biasa juga dikarenakan petugas tidak mengenakan seragamnya. Sedangkan pemecatan dilakukan bila teguran tidak diindahkan, mencuri, merusak fasilitas atau berkelahi.
Para CS ini bertugas selama enam hari kerja. Dalam sehari, hanya dua jam waktu mereka untuk beristirahat. Namun, bila ada yang izin, mereka harus mengganti shift mereka. “Petugas bekerja mulai Senin hingga Jumat, sedangkan Sabtu dan Minggu diisi oleh petugas yang izin pada hari kerja dengan alasan tertentu, seperti sakit atau urusan keluarga, “ terang Fauzi.
Kamaruddin, salah seorang CS mengaku senang dengan lingkungan kerjanya, terutama pergaulan dengan teman seprofesinya. Meski upah yang ia terima terasa belum mencukupi, ia tetap berharap kalau TJU atau rektorat menaikkan upah mereka suatu saat nanti.
(Bal/Mch)




