<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Wednesday, March 14, 2007

“Rezeki Nomplok” Sang Aktivis

Lima puluh mahasiswa kebagian bantuan pendidikan, bentuknya berupa beasiswa. Itupun hanya diberikan pada aktivis mahasiswa. Kontribusinya seperti apa?

Kebahagian menyelimuti hati Rafiuddin, mahasiswa Teknik Mesin, setelah tahu dirinya ketiban “durian jatuh” untuk aktivis melalui surat bernomor 6892/j04.3/ KM.2/2006. Tak hanya ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Tenis Meja ini saja yang terpilih, ada empat puluh sembilan mahasiswa yang mendapat “rezeki nomplok”. Mungkin semburat ceria tidak akan bisa disembunyikan dari wajah mahasiswa angkatan 2004 ini, dan empat puluh
sembilan mahasiswa lain. Pasalnya rezeki nomplok yang bernominal 9,6 juta perorang itu akan mereka kantongi selama setahun plus kunjungan beberapa hari ke pulau Jawa. Hadiah yang cukup menggiurkan. Tetapi Rafiuddin dan empat puluh sembilan mahasiswa
yang rata-rata adalah pengurus UKM dan lembaga kemahasiswaan itu, tidak sedang memenangkan undian berhadiah. Mereka adalah lima puluh mahasiswa dari berbagai fakultas di Unhas yang terseleksi untuk mendapatkan bantuan pendidikan hasil kerja sama Unhas dan Departemen Dalam Negeri.

Beasiswa Aktivis, nama bantuan pendidikan tersebut. Penggunaan nama aktivis untuk beasiswa yang hanya diberikan pada lima puluh mahasiswa ini jelas diperuntukan untuk sosok aktivis mahasiswa. Berbagai parameter memang harus digunakan untuk mengukuhkan mahasiswa pada posisi aktivis. Namun penyeleksian beasiswa 800 ribu perbulan ini, hanya menjadikan sertifikat dan penghargaan dari kegiatan yang pernah diikuti sebagai bukti nyata ke‘aktivis’an seseorang. Kriteria yang sangat mudah untuk dipenuhi oleh ratusan pengurus lembaga kemahasiswaan yang ada di Unhas. “Tak ketinggalan IPK harus diatas 2,5 serta surat keterangan tidak menerima beasiswa dari lembaga atau sponsor lain”, ungkap Pembantu Rektor III, Ir. Nasaruddin Salam, mengenai persyaratan beasiswa tersebut.

Namun sosialisasi yang kurang membuat pendaftar pada beasiswa yang hanya terdapat di kawasan Indonesia timur ini, hanya seratus orang. Setelah melalui penyeleksian berkas di Jakarta oleh Departemen Dalam Negeri maka terpilihlah 50 aktivis yang akan mendapatkan bantuan biaya hidup sebesar 500 ribu, dana pengadaan buku 200 ribu dan transportasi sebesar 100 ribu.

Tentu nominal yang tidak sedikit akan dikantongi oleh lima puluh aktivis tersebut. Dalam satu tahun, penerima beasiswa akan mengantongi 9,6 juta serta menghadiri pertemuan aktivis -penerima beasiswa dari sepuluh universitas di Indonesia- yang diselenggarakan di kota Malang, Cianjur, Jakarta dan Makassar.

“Beasiswa ini sebagai penghargaan kepada orang - orang unggulan”, ujar PR III tentang tujuan pemberian beasiswa. Aktivis, tambah dosen Fakultas Teknik ini, sangat berjasa dalam pengembangan soft skill mahasiswa. yang tentunya tidak diperoleh melalui bangku formal tetapi melalui organisasi. Sehingga mereka pantas diberi apresiasi nyata atas peran mereka sebagai pengurus kelembagaan dalam lingkup Unhas.

Sebagai salah satu bentuk bantuan pendidikan, pemberian beasiswa ini disambut positif oleh Drs. Zakaria J Anwar, sosiolog Unhas. Menurutnya beasiswa sebgai apresiasi nyata kepada mahasiswa, beasiswa ini dapat memberikan kontribusi bagi dunia kelembagaan dan penyaluran minat dan bakat mahasiswa dengan potensial. “Beasiswa ini dapat menjadi salah satu faktor pemicu mahasiswa untuk aktif berlembaga tetapi tanpa mengabaikan kuliah”, ungkap dosen fakultas ilmu sosial dan politik ini.

Memang, bagi Rafiuddin, salah seorang penerima beasiswa, tentu bantuan ini sangat meringankan biaya pendidikannya. Tak hanya itu, bantuan secara finansial ini juga memberikan kontribusi bagi UKM dan lembaga kemahsiswaan. “Beasiswa ini dapat menjadi sumber dana bagi UKM”, ungkap Rafiuddin yang berniat untuk membagi beasiswa ini dengan UKM yang dipimpinnya mengingat minimnya kucuran dana untuk setiap UKM.

Tentu saja, beasiswa ini bukan merupakan prioritas utama untuk berlembaga. Hal ini diungkakan oleh Minhajuddin, mahasiswa fisip yang aktif di himpunan jurusannya. “ Berorganisasi untuk belajar dan menyalurkan hobi”, terang mahasiswa semester satu ini.

Bagi mahasiswa lain, misalnya Arianto Abidin, mahasiswa Fakultas Kelautan dan Perikanan mengharapkan kontribusi dari bantuan ini tidak akan menumpulkan kevokalan mahasiswa. Mahasiswa harus tetap kritis terhadap kebijakan rektorat dan berbagai permasalahan yang terjadi. “Jangan sampai beasiswa ini mematikan daya kritis mahasiswa,” ujar Arianto Abidin, yang juga merupakan Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Unhas.

Besar harapan, tambah Zakaria, agar kontribusi nyata beasiswa ini adalah tetap menjadikan aktivis sebagai tokoh penggerak dan pembaharu bangsa. Dan tentu saja motivator dan teladan bagi ribuan mahasiswa Unhas. Semoga.

sky,fmi/non