<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener("load", function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <iframe src="http://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID=35470829&amp;blogName=KABAR+DARI+KAMPUS+UNHAS&amp;publishMode=PUBLISH_MODE_FTP&amp;navbarType=BLUE&amp;layoutType=CLASSIC&amp;homepageUrl=http%3A%2F%2Fwww.identitasonline.net%2F&amp;searchRoot=http%3A%2F%2Fblogsearch.google.com%2F" marginwidth="0" marginheight="0" scrolling="no" frameborder="0" height="30px" width="100%" id="navbar-iframe" title="Blogger Navigation and Search"></iframe> <div></div>
SELAMAT DATANG DI SURAT KABAR KAMPUS UNHAS
Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketPhoto Sharing and Video Hosting at Photobucket

Friday, March 23, 2007

Kerja Dulu, Baru Duit!

Semakin sering suatu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) memenuhi agendanya, maka alokasi dana dari rektorat akan diperoleh. Sayang, banyak di antaranya minim prestasi.

Bangunan itu cukup awam di telinga mahasiswa, mungkin karena letaknya yang strategis, di jalan lingkar Unhas, mungkin juga karena tempat itu menampung minat dan bakat mahasiswa. Itulah Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM). Bangunan itu kini sedikit usang dimakan waktu. Meski beberapa sudut universitas terkena ’cipratan’ renovasi besar-besaran beberapa waktu lalu, PKM sendiri nampaknya masih menunggu giliran. Entah kapan.

Terdapat 27 UKM yang menghuni dua bangunan yang berbanjar saling sejajar itu. Pun dengan jenis dan kegiatan yang beragam pula. Banyaknya kegiatan tersebut telah tercatat pasti dalam agenda tahunan tiap UKM. Ada yang hanya berskala kecil atau rutin, namun ada pula yang skalanya besar, seperti kegiatan nasional atau lokal.

Pastinya tiap kegiatan UKM ini membutuhkan anggaran. Dalam menyelenggarakannya, banyak cara yang mereka (UKM) lakukan. Menggalang sponsor salah satunya, cara ini cukup lazim digunakan bila helatan yang akan diadakan. Kurangnya pasokan serta alur dana yang lambat, membuat sponsor sebagai pilihan utama. Menurut Herdiyansyah Ketua UKM Volley, dana yang diminta kadang cair setelah acara terlaksana, hal ini memaksa mereka mencari alternatif lain agar dana yang dibutuhkan bisa segera diperoleh.

Namun tahun ini, telah ada penambahan alokasi dana untuk organisasi ekstrakurikuler Unhas itu. Bila tahun lalu, dua setengah juta rupiah dibagi rata untuk tiap UKM. Kini, dari perhitungan dan hasil rapat yang dilakukan oleh bidang kemahasiswaan Unhas, dana yang diterima UKM menjadi 3,5 juta rupiah per tahun. Juga dibagi rata.

Alokasi ini kemudian disimpan sementara dalam kas bidang kemahasiswaan. Dana baru akan cair setelah proposal kegiatan telah tercatat di buku sekertaris Pembatu Rektor (PR) III. Namun tidak serta merta keseluruhan dana itu akan diberikan, beberapa masih harus disesuaikan dengan kegiatan yang dilangsungkan. Bila dana itu tidak mencukupi untuk tahun ini, maka dana serupa untuk tahun depan bisa ditarik ke tahun yang berlaku. Hal itu berlaku pula sebaliknya.

“Anggaran yang digunakan untuk periode 2006 tersisa 400 ribu rupiah, dana tersebut masih akan tetap kami dapat, karena telah dialokasikan untuk tahun 2007,” ungkap Daryatmo Ketua UKM Sepak Bola.

Pengalokasian dana ini kemudian menjadi permasalahan di kalangan UKM sendiri. Beberapa UKM itu ternyata tidak memiliki kebutuhan operasional yang sama. UKM Persatuan Tembak Indonesia misalnya, harus mengeluarkan kocek yang lebih besar bila dibandingkan dengan UKM lainnya. Perlengkapan menembak seperti senapan, peluru martil bahkan perawatannya pun bisa melewati budget rektorat untuk UKM itu.

Meski banyak kegiatan diikuti atau diselenggarakan, namun hanya beberapa UKM yang mewujudkan eksistensinya dengan sebuah prestasi, baik itu di kandang maupun tandang. UKM yang berprestasi ini biasa disebut dengan UKM yang aktif. Sementara yang kurang aktif menghasilkan prestasi, sepertinya harus menelan ludah.

Ir Nasaruddin Salam MT, Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan (PR III) Unhas menuturkan, anggaran hanya akan diberikan berdasarkan kinerja serta keaktifan, baik itu sebagai pelaksana maupun peserta. Untuk menilai aktif tidaknya suatu UKM, maka kegiatan yang telah diprogramkan harus dilaksanakan terlebih dahulu. PR III melanjutkan, oleh sebab itulah dana UKM biasanya didapatkan setelah kegiatan berlangsung. “Susun rancangan kerja dulu, baru dana,”imbuhnya.

Tahun ini, banyak rencana telah dipersiapkan mantan Pembantu Dekan III Teknik itu. Mengarahkan pembinaan UKM, termasuk di dalamnya kaderisasi adalah hal pertama ia utarakan. Berikutnya yang akan dilakukan ialah memanajemen keikutsertaan lomba, serta perbaikan sarana dan prasarana PKM, seperti gedung dan lapangan.

”Semoga teman-teman di UKM memperbanyak prestasi, agar dapat mengangkat citra universitas,” harap Nasaruddin. Selain itu ia menambahkan, agar UKM mampu melibatkan banyak mahasiswa secara aktif sehingga tersalurkan secara positif dan juga kreatif.
Dna/Mch