identitas Nomor 655/ Tahun XXXIII / Edisi Awal Februari 2007
Mau Praktik? Antri Dong!
Akibat minimnya kucuran dana, kapasitas dan fasilitas RSGM Kandea tak lagi memadai. Ratusan mahasiswa coass harus rela diliburkan sembari menunggu siklus praktik.
"......Menunggu ..... ternyata menyakitkan." Lirik tembang lawas yang dilantunkan Ribas ini, kurang lebih mewakili perasaan mahasiswa kepaniteraan (coass) FKG Unhas. Bukan sejam dua jam, tapi hingga berbulan-bulan lamanya mereka terpaksa kena “ribas”. Salah satu penyebabnya adalah fasilitas praktik yang tersedia di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Kandea tak lagi sanggup mengimbangi jumlah coass.
Dampaknya hingga awal tahun 2007, dari 490 coass yang terdaftar hanya 261 orang yang menjalani siklus. Siklus merupakan istilah bagi mereka yang sedang beruntung karena mendapat jatah praktik. Sisanya, harus sabar menanti pergantian siklus dengan status diliburkan atau refreshing. Ujung-ujungnya, mereka pun harus bersabar untuk menyandang gelar drg di depan namanya. Tersendatnya wisudawan coass FKG makin memperparah penumpukan mahasiswa di Kandea. Dan seperti lingkaran yang tak berujung, penumpukan ini kembali memperbesar kesenjangan antara jumlah mahasiswa dengan fasilitas yang tersedia.
Misalnya saja kursi unit yang digunakan saat memeriksa gigi pasien. Dituturkan Ketua Dewan Mahasiswa Profesi FKG, Muh Iqbal S Kg, kursi unit yang tersedia di RSGM Kandea hanya berkisar 55 buah. Sedangkan coass yang ingin praktik hampir 500 orang. Perbandingan 10:1 untuk tiap kursi ini tentu tak memadai. Mengingat, perbandingan idealnya adalah 1:1. Agar semua coass dapat giliran praktik, mau tak mau sistem antri sambil liburan harus diberlakukan.
"Bisa dikata fasilitas yang ada di RSGM Kandea, itu-itu saja sejak tempo dulu," ujar Muh Iqbal yang kerap menerima keluhan dari coass lainnya. Wajar kiranya, jika nada keluhan banyak terlontar. Pasalnya, saat diliburkan bukan hanya waktu yang terbuang sia-sia, tapi juga SPP yang mereka setor. Soalnya, meski diliburkan bukan berarti mereka bebas SPP.
Sebut saja Rima (samaran). Ia mengaku pernah diliburkan selama lima bulan sebelum disikluskan ke salah satu bagian. Di FKG sendiri ada delapan bagian yang harus dilalui coass. Jika tiap bagian harus melalui masa liburan, maka pendidikan profesi yang umumnya bisa ditempuh dalam setahun tentu sulit tercapai. Jika dihitung-hitung, Rima yang angkatan 1995 tak hanya rugi satu semester tapi juga rugi SPP sebesar Rp 180 ribu. Ini pun belum seberapa dibandingkan nasib coass lainnya yang diliburkan hingga setahun lebih.
Keterbatasan fasilitas ini tak lepas dari seretnya kucuran dana bagi RSGM Kandea. Dekan FKG, Prof drg M Dharmautama Ph D Sp Prost menyebutkan bahwa alokasi dana secara langsung untuk praktik di RSGM Kandea memang tak ada. Karena poliklinik ini dianggap bisa membiayai dirinya sendiri. Lalu ke mana SPP mahasiswa tersebut dialokasikan?
Menurut Prof Dharmautama, alokasi 70 persen SPP mahasiswa ke fakultas terbilang sangat minim. "Dikatakan tak cukup, memang begitulah keadaannya," tuturnya. Ia memaparkan bahwa dana yang terkumpul sebagian telah dialokasikan untuk pendidikan profesi. Namun, anggaran tersebut hanya cukup untuk menggaji staf dan dosen-dosen serta pengadaan alat-alat kantor. Sedangkan dana pengadaaan bahan-bahan praktik mahasiswa dipungut dari pembayaran pasien. Pembayaran ini pun digunakan untuk membayar honor pegawai harian dan perawatan alat di RSGM.
Sebagai Dekan terpilih periode 2007-2011, Prof Dharmautama berjanji akan menyelesaikan permasalahan ini. Dimulai dengan kunjungan pihak universitas ke RSGM Kandea, Rabu (31/01) lalu. Dari pertemuan itu, pihak universitas berencana merenovasi sebuah bangunan terpisah di RSGM Kandea dan memberdayakan klinik gigi di depan RS Wahidin Sudirohusodo. Keduanya diharapkan menambah kapasitas ruangan praktik coass yang kini menumpuk di Kandea. Begitu pun untuk pengadaan peralatan praktik. "Rektor telah meminta kami untuk mengajukan proposal renovasi dan pengadaan alat tersebut," ujarnya.
Ayh/Git
Menunggu Pasien atau Nombok?
Masalah coass FKG tak hanya sampai di minimnya fasilitas. Kurangnya pasien untuk bagian tertentu juga menjadi kendala.
Menjadi dokter gigi ternyata tak semudah yang dibayangkan Wahyu (samaran). Terlebih jika harus menjalani masa refreshing. Akibat menumpuknya coass di Kandea, pria yang menolak disebutkan angkatannya ini terpaksa diliburkan setahun lebih. Saat wisuda September 2006 misalnya, coass FKG yang lulus hanya delapan orang. Ini tak sebanding dengan pendaftar coass yang berkisar seratus orang. Menurutnya penumpukan ini disebabkan banyaknya jumlah kasus yang harus ditangani, sehingga memperlambat kelulusan mahasiswa. “Beberapa bagian itu mematok kasus yang jumlahnya tak sedikit. Untuk bagian tertentu mungkin tak jadi masalah, tapi di bagian lain terasa sangat sulit,” ujar Wahyu. Apalagi, hal ini tak diimbangi jumlah pasien dan fasilitas memadai.
RSGM Kandea memang menetapkan delapan bagian yang harus dilewati dengan persyaratan tertentu. Yaitu responsi, menyiapkan dan menangani kasus, baca refarat dan ujian. Penanganan kasus dirasakan sulit karena kelulusan dipengaruhi jumlah pasien yang ditangani. Disebutkan Muh Iqbal, beberapa bagian yang lancar atau pasiennya datang sendiri yaitu bagian periodontologi (pembersihan karang gigi) dan konservasi (tambal gigi). "Tapi pada bagian lain, terus terang saja mahasiswa coass harus mencari sendiri dan mengongkosi pasiennya. Dan satu bagian itu ada yang menguras kantong Rp 1 juta lebih, khusus untuk biaya pasien," tandas Iqbal. Misalnya, untuk bagian bedah mulut, mahasiswa diharuskan menangani 32 kasus yang terkadang menghabiskan kocek mahasiswa hingga Rp 2 juta.
Berbagai hal menjadi penyebab kurangnya minat pasien mengunjungi RSGM Kandea. “Mereka yang golongan ekonomi menengah ke atas relatif memilih klinik dokter gigi yang ahli. Lantas yang ekonomi lemah kerap terkendala masalah dana,” keluh Wahyu. Akhirnya, Wahyu dan mahasiswa coass lainnya mencari pasien di luar RSGM dan bersiap merogoh kocek lebih dalam. Kurang lebih Rp 3 juta telah dihabiskan Wahyu untuk menyelesaikan sejumlah kasus. Ditambahkannya pula, penumpukan ini diperparah perilaku oknum tertentu yang memanfaatkan tuntutan praktik mahasiswa. Semisal di bagian mulut. "Untuk sariawan, obat di apotik hanya seharga Rp 10 ribuan dan bisa dipakai berkali-kali. Tapi di sini, pasien dikenakan biaya Rp 15 ribu untuk sekali tetes," bebernya.
Pengalaman serupa juga dialami Rima (samaran). Untuk beberapa bagian seperti bagian prostodonsi, bedah mulut, konservasi, dan pedodontia, rata-rata ia telah menghabiskan biaya sekitar Rp 2 juta. Meski begitu, ia lebih rela mengeluarkan biaya besar tapi cepat selesai, ketimbang harus menunggu pasien dan lama selesai. “Sebenarnya biaya bisa diminimalisir, tapi konsekuensinya akan memakan waktu lama. Caranya yah menunggu pasien datang. Padahal, terkadang untuk menyelesaikan satu bagian harus masuk hingga 3-4 kali,” jelasnya.
Untuk mendatangkan pasien yang lebih banyak, mahasiswi coass angkatan 1995 ini, berharap RSGM Kandea bisa bermitra dengan Askes atau Jamsostek. Dan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat. “Kita di sini tuh 500 orang dan berebut pasien. Jadi, memang sulit jika tak keluar mencari pasien,” keluhnya di akhir wawancara.
Ayh/Git
Akibat minimnya kucuran dana, kapasitas dan fasilitas RSGM Kandea tak lagi memadai. Ratusan mahasiswa coass harus rela diliburkan sembari menunggu siklus praktik.
"......Menunggu ..... ternyata menyakitkan." Lirik tembang lawas yang dilantunkan Ribas ini, kurang lebih mewakili perasaan mahasiswa kepaniteraan (coass) FKG Unhas. Bukan sejam dua jam, tapi hingga berbulan-bulan lamanya mereka terpaksa kena “ribas”. Salah satu penyebabnya adalah fasilitas praktik yang tersedia di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Kandea tak lagi sanggup mengimbangi jumlah coass.
Dampaknya hingga awal tahun 2007, dari 490 coass yang terdaftar hanya 261 orang yang menjalani siklus. Siklus merupakan istilah bagi mereka yang sedang beruntung karena mendapat jatah praktik. Sisanya, harus sabar menanti pergantian siklus dengan status diliburkan atau refreshing. Ujung-ujungnya, mereka pun harus bersabar untuk menyandang gelar drg di depan namanya. Tersendatnya wisudawan coass FKG makin memperparah penumpukan mahasiswa di Kandea. Dan seperti lingkaran yang tak berujung, penumpukan ini kembali memperbesar kesenjangan antara jumlah mahasiswa dengan fasilitas yang tersedia.
Misalnya saja kursi unit yang digunakan saat memeriksa gigi pasien. Dituturkan Ketua Dewan Mahasiswa Profesi FKG, Muh Iqbal S Kg, kursi unit yang tersedia di RSGM Kandea hanya berkisar 55 buah. Sedangkan coass yang ingin praktik hampir 500 orang. Perbandingan 10:1 untuk tiap kursi ini tentu tak memadai. Mengingat, perbandingan idealnya adalah 1:1. Agar semua coass dapat giliran praktik, mau tak mau sistem antri sambil liburan harus diberlakukan.
"Bisa dikata fasilitas yang ada di RSGM Kandea, itu-itu saja sejak tempo dulu," ujar Muh Iqbal yang kerap menerima keluhan dari coass lainnya. Wajar kiranya, jika nada keluhan banyak terlontar. Pasalnya, saat diliburkan bukan hanya waktu yang terbuang sia-sia, tapi juga SPP yang mereka setor. Soalnya, meski diliburkan bukan berarti mereka bebas SPP.
Sebut saja Rima (samaran). Ia mengaku pernah diliburkan selama lima bulan sebelum disikluskan ke salah satu bagian. Di FKG sendiri ada delapan bagian yang harus dilalui coass. Jika tiap bagian harus melalui masa liburan, maka pendidikan profesi yang umumnya bisa ditempuh dalam setahun tentu sulit tercapai. Jika dihitung-hitung, Rima yang angkatan 1995 tak hanya rugi satu semester tapi juga rugi SPP sebesar Rp 180 ribu. Ini pun belum seberapa dibandingkan nasib coass lainnya yang diliburkan hingga setahun lebih.
Keterbatasan fasilitas ini tak lepas dari seretnya kucuran dana bagi RSGM Kandea. Dekan FKG, Prof drg M Dharmautama Ph D Sp Prost menyebutkan bahwa alokasi dana secara langsung untuk praktik di RSGM Kandea memang tak ada. Karena poliklinik ini dianggap bisa membiayai dirinya sendiri. Lalu ke mana SPP mahasiswa tersebut dialokasikan?
Menurut Prof Dharmautama, alokasi 70 persen SPP mahasiswa ke fakultas terbilang sangat minim. "Dikatakan tak cukup, memang begitulah keadaannya," tuturnya. Ia memaparkan bahwa dana yang terkumpul sebagian telah dialokasikan untuk pendidikan profesi. Namun, anggaran tersebut hanya cukup untuk menggaji staf dan dosen-dosen serta pengadaan alat-alat kantor. Sedangkan dana pengadaaan bahan-bahan praktik mahasiswa dipungut dari pembayaran pasien. Pembayaran ini pun digunakan untuk membayar honor pegawai harian dan perawatan alat di RSGM.
Sebagai Dekan terpilih periode 2007-2011, Prof Dharmautama berjanji akan menyelesaikan permasalahan ini. Dimulai dengan kunjungan pihak universitas ke RSGM Kandea, Rabu (31/01) lalu. Dari pertemuan itu, pihak universitas berencana merenovasi sebuah bangunan terpisah di RSGM Kandea dan memberdayakan klinik gigi di depan RS Wahidin Sudirohusodo. Keduanya diharapkan menambah kapasitas ruangan praktik coass yang kini menumpuk di Kandea. Begitu pun untuk pengadaan peralatan praktik. "Rektor telah meminta kami untuk mengajukan proposal renovasi dan pengadaan alat tersebut," ujarnya.
Ayh/Git
Menunggu Pasien atau Nombok?
Masalah coass FKG tak hanya sampai di minimnya fasilitas. Kurangnya pasien untuk bagian tertentu juga menjadi kendala.
Menjadi dokter gigi ternyata tak semudah yang dibayangkan Wahyu (samaran). Terlebih jika harus menjalani masa refreshing. Akibat menumpuknya coass di Kandea, pria yang menolak disebutkan angkatannya ini terpaksa diliburkan setahun lebih. Saat wisuda September 2006 misalnya, coass FKG yang lulus hanya delapan orang. Ini tak sebanding dengan pendaftar coass yang berkisar seratus orang. Menurutnya penumpukan ini disebabkan banyaknya jumlah kasus yang harus ditangani, sehingga memperlambat kelulusan mahasiswa. “Beberapa bagian itu mematok kasus yang jumlahnya tak sedikit. Untuk bagian tertentu mungkin tak jadi masalah, tapi di bagian lain terasa sangat sulit,” ujar Wahyu. Apalagi, hal ini tak diimbangi jumlah pasien dan fasilitas memadai.
RSGM Kandea memang menetapkan delapan bagian yang harus dilewati dengan persyaratan tertentu. Yaitu responsi, menyiapkan dan menangani kasus, baca refarat dan ujian. Penanganan kasus dirasakan sulit karena kelulusan dipengaruhi jumlah pasien yang ditangani. Disebutkan Muh Iqbal, beberapa bagian yang lancar atau pasiennya datang sendiri yaitu bagian periodontologi (pembersihan karang gigi) dan konservasi (tambal gigi). "Tapi pada bagian lain, terus terang saja mahasiswa coass harus mencari sendiri dan mengongkosi pasiennya. Dan satu bagian itu ada yang menguras kantong Rp 1 juta lebih, khusus untuk biaya pasien," tandas Iqbal. Misalnya, untuk bagian bedah mulut, mahasiswa diharuskan menangani 32 kasus yang terkadang menghabiskan kocek mahasiswa hingga Rp 2 juta.
Berbagai hal menjadi penyebab kurangnya minat pasien mengunjungi RSGM Kandea. “Mereka yang golongan ekonomi menengah ke atas relatif memilih klinik dokter gigi yang ahli. Lantas yang ekonomi lemah kerap terkendala masalah dana,” keluh Wahyu. Akhirnya, Wahyu dan mahasiswa coass lainnya mencari pasien di luar RSGM dan bersiap merogoh kocek lebih dalam. Kurang lebih Rp 3 juta telah dihabiskan Wahyu untuk menyelesaikan sejumlah kasus. Ditambahkannya pula, penumpukan ini diperparah perilaku oknum tertentu yang memanfaatkan tuntutan praktik mahasiswa. Semisal di bagian mulut. "Untuk sariawan, obat di apotik hanya seharga Rp 10 ribuan dan bisa dipakai berkali-kali. Tapi di sini, pasien dikenakan biaya Rp 15 ribu untuk sekali tetes," bebernya.
Pengalaman serupa juga dialami Rima (samaran). Untuk beberapa bagian seperti bagian prostodonsi, bedah mulut, konservasi, dan pedodontia, rata-rata ia telah menghabiskan biaya sekitar Rp 2 juta. Meski begitu, ia lebih rela mengeluarkan biaya besar tapi cepat selesai, ketimbang harus menunggu pasien dan lama selesai. “Sebenarnya biaya bisa diminimalisir, tapi konsekuensinya akan memakan waktu lama. Caranya yah menunggu pasien datang. Padahal, terkadang untuk menyelesaikan satu bagian harus masuk hingga 3-4 kali,” jelasnya.
Untuk mendatangkan pasien yang lebih banyak, mahasiswi coass angkatan 1995 ini, berharap RSGM Kandea bisa bermitra dengan Askes atau Jamsostek. Dan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat. “Kita di sini tuh 500 orang dan berebut pasien. Jadi, memang sulit jika tak keluar mencari pasien,” keluhnya di akhir wawancara.
Ayh/Git




