BSS Menuai Keluh
Basic Study Skill (BSS) kembali dilaksanakan, kali ini agak telat, di akhir semester. Benarkah pengenalan kemampuan dasar ini mampu meningkatkan kualitas mahasiswa?
Ribuan Mahasiswa Baru terlihat memadati gedung Baruga Andi Pettarani dengan seragam putih hitamnya, Senin (22/1). Mereka tak perlu linglung lagi untuk mencari tempat itu. Pasalnya telah satu semester mereka bergelut di dunia kampus. Berbeda dengan dua tahun silam, saat program BSS ini baru diterapkan, tepat di awal semester. Saat itu, dengan sistem terpusat, Mahasiswa Baru seakan diajak berkenalan dengan berbagai sudut kampus. Puluhan mahasiswa dari beberapa fakultas dikumpulkan pada satu tempat di area yang berbeda-beda.
Lain tahun, lain juga ceritanya. Kini BSS dilaksanakan dengan membagi-bagi wilayah. Hari pertama untuk universitas, hari kedua dan ketiga adalah milik fakultas. Namun tujuannya tetap sama, yakni meningkatkan keterampilan belajar mahasiswa, ditambah dengan pengenalan sarana vital kampus, seperti perpustakaan universitas.
Beberapa mahasiswa baru sempat menyayangkan BSS ini. Kartika, Mahasiswa Administrasi Negara ini misalnya, ia mengaku kalau program ini terbilang telat. “Harusnya program ini dilaksanakan di awal semester, supaya kita dapat mengaplikasikan pengetahuan yang didapatkan di BSS lebih dini, ” ujarnya memelas.
Terlambatnya BSS tahun ini bukannya tanpa alasan. Penyelenggaraan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) awal semester, serta pro-kontranya cukup memicu keterlambatan ini. Menurut Drs Abd Gaffar, Koordinator BSS Fakultas Ilmu Sosial Politik, program ini tidak bisa dilakukan di awal semester, karena selepas PMB, kuliah segera berlangsung, jadi tidak ada waktu untuk melaksanakannya saat itu. Ia juga menambahkan, meski terlambat, program ini cukup sesuai dilaksanakan di akhir semester satu, karena mahasiswa baru bisa mengevaluasi diri, mengenai bagaimana sistem belajar mereka pada semester awal lalu.
Meski kegiatan ini ber-bareng-an dengan pengurusan Kartu Rencana Studi, antusiasme mahasiswa baru bisa terlihat. Mungkin dikarenakan materi BSS yang menarik, mungkin juga karena BSS itu adalah poin penting untuk memenuhi SKS, sehingga dari 4150 mahasiswa baru yang terdaftar, peserta BSS yang hadir lebih dari 80 persen, yakni 3599 orang. Namun, diluar dari itu semua, terselenggaranya kegiatan yang menghabiskan dana 400 juta rupiah itu tentunya tak lepas dari berbagai persiapan yang dilakukan pihak penyelenggara.
Lokakarya serta pelatihan dari Badan Konseling Unhas beberapa kali telah diadakan. Hal ini ditujukan bagi pemateri yang akan terjun langsung sebagai pemateri. “Kita sebagai pengajar juga dibekali ilmu sebelum terjun ke lapangan, yang pertama kami terapkan dalam BSS ini ialah bagaimana mengubah pola pikir mahasiswa baru, yang mana masih menggunakan pola pikir dari apa yang dibawanya sewaktu masih SMA dulu, diubah menjadi pola pikir mahasiswa agar dia mengetahui cara belajar di perguruan tinggi,” tutur Naharuddin Instruktur BSS yang juga Dosen Ilmu Politik.
Meski semua instruktur BSS dibekali ilmu dasar terlebih dulu, namun ada saja pemateri yang dianggap kurang mampu menyalurkan bahan materinya dengan baik. Seperti pengenalan kamputer dan juga internet. Sebut saja Irwan, Mahasiswa Baru MIPA itu mengeluh, materi yang dipaparkan banyak yang kurang akurat, tanpa aplikasi dan percontohan yang baik. “Meski diberikan penjelasan dengan slide materi, tapi praktek dan penjelasan yang diberikan kadang tidak sesuai,” lanjutnya.
Tak dipungkiri memang, sajian materi yang disuguhkan instruktur untuk para mahasiswa baru ini sangat esensial, seperti studi tinjauan filosofis teaching to learning, Manajemen diri serta Study Skills. Namun apakah keseluruhan materi dapat terserap dan teraplikasi, pastinya hal itu kembali lagi pada diri individu peserta BSS.
Kriteria Kelulusan yang Tak Jelas
Bagi yang mengikuti BSS, jangan bersenang hati dulu. Sebab, tidak semua mahasiswa baru bisa dinyatakan lulus begitu saja. Sebagai contoh, tahun lalu ratusan mahasiswa dinyatakan tidak lulus.
Serlin, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2005 menyatakan keluhannya. Ia mengaku, mengikuti semua materi BSS, tak ketinggalan satu pun. Namun, saat diumumkan, namanya tak tercantum dalam daftar mahasiswa yang lulus BSS. “Bayangkan saja, sekitar 300 lebih mahasiswa Fisip yang ikut BSS, yang lulus Cuma 137 orang,” keluhnya. Tak hanya Serlin, mahasiswa lain pun mempertanyakan kriteria penilaian BSS ini. Pasalnya, banyak di antara mereka yang hanya menitip tanda tangan, justru dinyatakan lulus.
Menanggapi hal itu, Koordinator BSS Fakultas Mipa Drs Muh Altin Massinai berkilah. Ia mengatakan sistem penilaiaan itu berdasarkan kehadiran penuh peserta BSS. Selain itu, semua tugas-tugas yang diberikan instruktur harus dilaksanakan oleh peserta. Namun, bila ada mahasiswa yang tidak lulus, Altin menjelaskan, kalau mereka bisa ikut kembali pada pelaksanaan BSS tahun depan. “Kami membolehkan mereka untuk ikut kembali pada program BSS selanjutnya, bahkan program ini wajib bagi seluruh mahasiswa Unhas, baik mereka yang angkatan lama, tapi masih ada di Unhas,” tandas Altin.
Fmi/Mch
Ribuan Mahasiswa Baru terlihat memadati gedung Baruga Andi Pettarani dengan seragam putih hitamnya, Senin (22/1). Mereka tak perlu linglung lagi untuk mencari tempat itu. Pasalnya telah satu semester mereka bergelut di dunia kampus. Berbeda dengan dua tahun silam, saat program BSS ini baru diterapkan, tepat di awal semester. Saat itu, dengan sistem terpusat, Mahasiswa Baru seakan diajak berkenalan dengan berbagai sudut kampus. Puluhan mahasiswa dari beberapa fakultas dikumpulkan pada satu tempat di area yang berbeda-beda.
Lain tahun, lain juga ceritanya. Kini BSS dilaksanakan dengan membagi-bagi wilayah. Hari pertama untuk universitas, hari kedua dan ketiga adalah milik fakultas. Namun tujuannya tetap sama, yakni meningkatkan keterampilan belajar mahasiswa, ditambah dengan pengenalan sarana vital kampus, seperti perpustakaan universitas.
Beberapa mahasiswa baru sempat menyayangkan BSS ini. Kartika, Mahasiswa Administrasi Negara ini misalnya, ia mengaku kalau program ini terbilang telat. “Harusnya program ini dilaksanakan di awal semester, supaya kita dapat mengaplikasikan pengetahuan yang didapatkan di BSS lebih dini, ” ujarnya memelas.
Terlambatnya BSS tahun ini bukannya tanpa alasan. Penyelenggaraan Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) awal semester, serta pro-kontranya cukup memicu keterlambatan ini. Menurut Drs Abd Gaffar, Koordinator BSS Fakultas Ilmu Sosial Politik, program ini tidak bisa dilakukan di awal semester, karena selepas PMB, kuliah segera berlangsung, jadi tidak ada waktu untuk melaksanakannya saat itu. Ia juga menambahkan, meski terlambat, program ini cukup sesuai dilaksanakan di akhir semester satu, karena mahasiswa baru bisa mengevaluasi diri, mengenai bagaimana sistem belajar mereka pada semester awal lalu.
Meski kegiatan ini ber-bareng-an dengan pengurusan Kartu Rencana Studi, antusiasme mahasiswa baru bisa terlihat. Mungkin dikarenakan materi BSS yang menarik, mungkin juga karena BSS itu adalah poin penting untuk memenuhi SKS, sehingga dari 4150 mahasiswa baru yang terdaftar, peserta BSS yang hadir lebih dari 80 persen, yakni 3599 orang. Namun, diluar dari itu semua, terselenggaranya kegiatan yang menghabiskan dana 400 juta rupiah itu tentunya tak lepas dari berbagai persiapan yang dilakukan pihak penyelenggara.
Lokakarya serta pelatihan dari Badan Konseling Unhas beberapa kali telah diadakan. Hal ini ditujukan bagi pemateri yang akan terjun langsung sebagai pemateri. “Kita sebagai pengajar juga dibekali ilmu sebelum terjun ke lapangan, yang pertama kami terapkan dalam BSS ini ialah bagaimana mengubah pola pikir mahasiswa baru, yang mana masih menggunakan pola pikir dari apa yang dibawanya sewaktu masih SMA dulu, diubah menjadi pola pikir mahasiswa agar dia mengetahui cara belajar di perguruan tinggi,” tutur Naharuddin Instruktur BSS yang juga Dosen Ilmu Politik.
Meski semua instruktur BSS dibekali ilmu dasar terlebih dulu, namun ada saja pemateri yang dianggap kurang mampu menyalurkan bahan materinya dengan baik. Seperti pengenalan kamputer dan juga internet. Sebut saja Irwan, Mahasiswa Baru MIPA itu mengeluh, materi yang dipaparkan banyak yang kurang akurat, tanpa aplikasi dan percontohan yang baik. “Meski diberikan penjelasan dengan slide materi, tapi praktek dan penjelasan yang diberikan kadang tidak sesuai,” lanjutnya.
Tak dipungkiri memang, sajian materi yang disuguhkan instruktur untuk para mahasiswa baru ini sangat esensial, seperti studi tinjauan filosofis teaching to learning, Manajemen diri serta Study Skills. Namun apakah keseluruhan materi dapat terserap dan teraplikasi, pastinya hal itu kembali lagi pada diri individu peserta BSS.
Kriteria Kelulusan yang Tak Jelas
Bagi yang mengikuti BSS, jangan bersenang hati dulu. Sebab, tidak semua mahasiswa baru bisa dinyatakan lulus begitu saja. Sebagai contoh, tahun lalu ratusan mahasiswa dinyatakan tidak lulus.
Serlin, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan angkatan 2005 menyatakan keluhannya. Ia mengaku, mengikuti semua materi BSS, tak ketinggalan satu pun. Namun, saat diumumkan, namanya tak tercantum dalam daftar mahasiswa yang lulus BSS. “Bayangkan saja, sekitar 300 lebih mahasiswa Fisip yang ikut BSS, yang lulus Cuma 137 orang,” keluhnya. Tak hanya Serlin, mahasiswa lain pun mempertanyakan kriteria penilaian BSS ini. Pasalnya, banyak di antara mereka yang hanya menitip tanda tangan, justru dinyatakan lulus.
Menanggapi hal itu, Koordinator BSS Fakultas Mipa Drs Muh Altin Massinai berkilah. Ia mengatakan sistem penilaiaan itu berdasarkan kehadiran penuh peserta BSS. Selain itu, semua tugas-tugas yang diberikan instruktur harus dilaksanakan oleh peserta. Namun, bila ada mahasiswa yang tidak lulus, Altin menjelaskan, kalau mereka bisa ikut kembali pada pelaksanaan BSS tahun depan. “Kami membolehkan mereka untuk ikut kembali pada program BSS selanjutnya, bahkan program ini wajib bagi seluruh mahasiswa Unhas, baik mereka yang angkatan lama, tapi masih ada di Unhas,” tandas Altin.
Fmi/Mch




