Apa Kabar BHP ?
BULAN Juli 2005 lalu, Unhas telah mengirimkan Proposal Persiapan BHP-nya ke Jakarta. Ini langkah awal menyambut status baru Unhas. Setahun berlalu, sejauh mana kesiapan Unhas menuju BHP kini?
Matahari kian beranjak ke pelupuk barat, jam sudah menunjuk pukul 16.00 Wita. Waktu-waktu seperti ini aktivitas administrasi dan akademik di Unhas mulai sepi. Tak terkecuali Gedung Rektorat. Hanya beberapa ruangan yang menampakkan aktivitas. Salah satunya Kantor Implementasi-BHP yang berada di Lantai enam gedung rektorat. Meski jam kantor telah usai, biasanya dosen yang tergabung dalam Tim BHP Unhas masih meluangkan waktu di tempat itu hingga menjelang malam untuk membahas rancangan BHP Unhas.
Persiapan Unhas telah mencapai 80 persen. Dalam dua tahun terakhir, berbagai proses telah dilalui dalam menyambut BHP. Mulai dari lessons-learned dari pilot project PT-BHMN (UI, ITB, UGM, IPB), penyusunan proposal, persetujuan senat Unhas, hingga konsultasi dengan Dewan Pendidikan Tinggi.
Untuk proposal. Revisi tahap akhir telah dilakukan untuk dikirim kembali ke Jakarta awal September ini. Sebelumnya, proposal yang terdiri dari dua dokumen, yaitu laporan hasil evaluasi diri, serta dokumen rencana strategi dan rencana transisi menuju BHP ini, telah mengalami revisi sebanyak dua kali. Revisi dilakukan karena proposal awal yang diajukan ke Dikti, menyangkut rincian tahap-tahap rencana transisi Unhas saat BHP, belum bisa meyakinkan Dikti.
Usai pengiriman proposal, tim dari pusat akan melakukan side visit untuk mengevaluasi dan memeriksa kesesuaian antara data dalam proposal dengan keadaan di lapangan. Setelah itu, tinggal menunggu disahkannya Peraturan Pemerintah (PP) mengenai BHP di Unhas.
Namun sebelum pengesahan PP tersebut, langkah otonomi Unhas dan PTN lainnya masih harus menunggu kejelasan UU BHP. Kabar terakhir, RUU BHP tersebut masih berada di Sekretariat Negara Indonesia. Dari Sekretariat Negara, RUU tersebut baru akan dibawa ke Komisi IX DPR.
Menurut Dr Ir Junaedi Muhidong MSc, Ketua Tim BHP Unhas, pemerintah sendiri menargetkan pengesahan UU BHP di DPR, berakhir tahun 2006 ini. Tapi, ini baru sekadar target yang masih harus menunggu pembuktian. Tarik-menarik yang kerap terjadi dalam pembahasan RUU, mencuatkan rumor bahwa Dikti akan menempuh cara lain dalam pemberian otonomi bagi PTN tanpa menunggu disahkannya UU BHP.
Disahkannya UU BHP dan PP itu, tak seketika membuat Unhas menjadi murni BHP. Butuh persiapan. Berbagai penyesuaian akan dilakukan dalam struktur organisasi universitas, kepegawaian, dan pengelenggaraan universitas. Salah satunya, pembentukan Majelis Wali Amanat (MWA), badan tertinggi yang bertanggung jawab dalam pengelolaan dan pengembangan universitas.
Persiapan menuju BHP murni ini disebut masa transisi. Tim BHP Unhas menargetkan masa transisi selama 5 tahun. Tapi, dari keseriusan Tim BHP menyiapkan diri, bisa dikatakan tersirat keinginan menjadi BHP sedini mungkin. Tak heran memang, jika Tim BHP Unhas mencoba lebih optimis.
Dr Ir Rusnadi Padjung MSc melihat jika Unhas mampu menjadi BHP lebih awal, keuntungan ganda akan diraih Unhas. “Perhatian pemerintah dalam memberikan bantuan akan lebih besar. Sementara Unhas dapat menjalin kerjasama untuk mendatangkan sumber-sumber penerimaan tanpa terikat dengan aturan pemerintah sebagai PTN,” jelas Anggota Tim BHP ini beralasan.
IM:HERE Tiba di Unhas
Optimisme tim BHP dengan peralihan status Unhas semakin menguat. Pasalnya, Unhas baru saja memenangkan proyek kompetisi Indonesia Managing: High Education for Relevancy and Efficiency (IM:HERE). Proyek pengembangan kapabilitas organisasi dan manajemen universitas ini dikompetisikan Dikti untuk PTN yang akan menjadi BHP.
Khusus untuk menggolkan proyek ini, Unhas membentuk Tim 22A yang anggotanya juga dari Tim BHP. Kerja keras tim ini tak sia-sia. Dari hasil kunjungan Dikti beserta wakil World Bank ke Unhas 15 Agustus lalu, Unhas dinilai mampu memberikan potret sesungguhnya. Alhasil, Unhas dinyatakan sebagai salah satu penerima pada pengumuman pemenang proyek 30 Agustus lalu.
“Kemenangan ini dapat diperoleh, karena Unhas dianggap berhasil mengevaluasi diri dengan mengidentifikasi dan menelusuri akar permasalahan manajemennya. Serta mencarikan solusi yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi,” ungkap Rusnadi yang diamanahkan untuk mengemban jabatan Ketua Tim 22A.
Wajar jika kemudian Tim BHP berbangga hati atas keberhasilan ini. Pasalnya, Dana sebesar US 500 ribu dollar atau sekitar 5 miliar rupiah, disediakan pemerintah untuk pengembangan manajemen selama dua tahun. Ada lima program utama yang menjadi sasaran perbaikan manajemen lewat proyek IM:HERE ini. Yaitu, manajemen struktur organisasi universitas, manajemen sistem keuangan yang terpadu, manajemen asset secara menyeluruh, manajemen sumber daya manusia yang andal dan terpercaya, serta manajemen sistem akademik untuk penjaminan mutu yang menggunakan sistem Information Communication Technology (ICT).
Keberhasilan memenangkan proyek ini diyakini akan memuluskan jalan Unhas menuju BHP. Menurut Deddy T Tikson PhD, kemenangan ini merupakan indikator kesiapan Unhas menyambut BHP. “Pemberian proyek kompetisi ini, karena Dikti menilai Unhas memang layak memperoleh status BHP,” terang Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang juga anggota Tim BHP ini. Karena kriteria penilaian proyek ini hampir serupa dengan penilaian kesiapan PT menuju BHP, yang mencakup unsur-unsur: kesiapan manajemen, kualitas, keberlanjutan, akuntabilitas, efisiensi, dan tanggung jawab sosial.
Git, M14/Pik
Matahari kian beranjak ke pelupuk barat, jam sudah menunjuk pukul 16.00 Wita. Waktu-waktu seperti ini aktivitas administrasi dan akademik di Unhas mulai sepi. Tak terkecuali Gedung Rektorat. Hanya beberapa ruangan yang menampakkan aktivitas. Salah satunya Kantor Implementasi-BHP yang berada di Lantai enam gedung rektorat. Meski jam kantor telah usai, biasanya dosen yang tergabung dalam Tim BHP Unhas masih meluangkan waktu di tempat itu hingga menjelang malam untuk membahas rancangan BHP Unhas.
Persiapan Unhas telah mencapai 80 persen. Dalam dua tahun terakhir, berbagai proses telah dilalui dalam menyambut BHP. Mulai dari lessons-learned dari pilot project PT-BHMN (UI, ITB, UGM, IPB), penyusunan proposal, persetujuan senat Unhas, hingga konsultasi dengan Dewan Pendidikan Tinggi.
Untuk proposal. Revisi tahap akhir telah dilakukan untuk dikirim kembali ke Jakarta awal September ini. Sebelumnya, proposal yang terdiri dari dua dokumen, yaitu laporan hasil evaluasi diri, serta dokumen rencana strategi dan rencana transisi menuju BHP ini, telah mengalami revisi sebanyak dua kali. Revisi dilakukan karena proposal awal yang diajukan ke Dikti, menyangkut rincian tahap-tahap rencana transisi Unhas saat BHP, belum bisa meyakinkan Dikti.
Usai pengiriman proposal, tim dari pusat akan melakukan side visit untuk mengevaluasi dan memeriksa kesesuaian antara data dalam proposal dengan keadaan di lapangan. Setelah itu, tinggal menunggu disahkannya Peraturan Pemerintah (PP) mengenai BHP di Unhas.
Namun sebelum pengesahan PP tersebut, langkah otonomi Unhas dan PTN lainnya masih harus menunggu kejelasan UU BHP. Kabar terakhir, RUU BHP tersebut masih berada di Sekretariat Negara Indonesia. Dari Sekretariat Negara, RUU tersebut baru akan dibawa ke Komisi IX DPR.
Menurut Dr Ir Junaedi Muhidong MSc, Ketua Tim BHP Unhas, pemerintah sendiri menargetkan pengesahan UU BHP di DPR, berakhir tahun 2006 ini. Tapi, ini baru sekadar target yang masih harus menunggu pembuktian. Tarik-menarik yang kerap terjadi dalam pembahasan RUU, mencuatkan rumor bahwa Dikti akan menempuh cara lain dalam pemberian otonomi bagi PTN tanpa menunggu disahkannya UU BHP.
Disahkannya UU BHP dan PP itu, tak seketika membuat Unhas menjadi murni BHP. Butuh persiapan. Berbagai penyesuaian akan dilakukan dalam struktur organisasi universitas, kepegawaian, dan pengelenggaraan universitas. Salah satunya, pembentukan Majelis Wali Amanat (MWA), badan tertinggi yang bertanggung jawab dalam pengelolaan dan pengembangan universitas.
Persiapan menuju BHP murni ini disebut masa transisi. Tim BHP Unhas menargetkan masa transisi selama 5 tahun. Tapi, dari keseriusan Tim BHP menyiapkan diri, bisa dikatakan tersirat keinginan menjadi BHP sedini mungkin. Tak heran memang, jika Tim BHP Unhas mencoba lebih optimis.
Dr Ir Rusnadi Padjung MSc melihat jika Unhas mampu menjadi BHP lebih awal, keuntungan ganda akan diraih Unhas. “Perhatian pemerintah dalam memberikan bantuan akan lebih besar. Sementara Unhas dapat menjalin kerjasama untuk mendatangkan sumber-sumber penerimaan tanpa terikat dengan aturan pemerintah sebagai PTN,” jelas Anggota Tim BHP ini beralasan.
IM:HERE Tiba di Unhas
Optimisme tim BHP dengan peralihan status Unhas semakin menguat. Pasalnya, Unhas baru saja memenangkan proyek kompetisi Indonesia Managing: High Education for Relevancy and Efficiency (IM:HERE). Proyek pengembangan kapabilitas organisasi dan manajemen universitas ini dikompetisikan Dikti untuk PTN yang akan menjadi BHP.
Khusus untuk menggolkan proyek ini, Unhas membentuk Tim 22A yang anggotanya juga dari Tim BHP. Kerja keras tim ini tak sia-sia. Dari hasil kunjungan Dikti beserta wakil World Bank ke Unhas 15 Agustus lalu, Unhas dinilai mampu memberikan potret sesungguhnya. Alhasil, Unhas dinyatakan sebagai salah satu penerima pada pengumuman pemenang proyek 30 Agustus lalu.
“Kemenangan ini dapat diperoleh, karena Unhas dianggap berhasil mengevaluasi diri dengan mengidentifikasi dan menelusuri akar permasalahan manajemennya. Serta mencarikan solusi yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi,” ungkap Rusnadi yang diamanahkan untuk mengemban jabatan Ketua Tim 22A.
Wajar jika kemudian Tim BHP berbangga hati atas keberhasilan ini. Pasalnya, Dana sebesar US 500 ribu dollar atau sekitar 5 miliar rupiah, disediakan pemerintah untuk pengembangan manajemen selama dua tahun. Ada lima program utama yang menjadi sasaran perbaikan manajemen lewat proyek IM:HERE ini. Yaitu, manajemen struktur organisasi universitas, manajemen sistem keuangan yang terpadu, manajemen asset secara menyeluruh, manajemen sumber daya manusia yang andal dan terpercaya, serta manajemen sistem akademik untuk penjaminan mutu yang menggunakan sistem Information Communication Technology (ICT).
Keberhasilan memenangkan proyek ini diyakini akan memuluskan jalan Unhas menuju BHP. Menurut Deddy T Tikson PhD, kemenangan ini merupakan indikator kesiapan Unhas menyambut BHP. “Pemberian proyek kompetisi ini, karena Dikti menilai Unhas memang layak memperoleh status BHP,” terang Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik yang juga anggota Tim BHP ini. Karena kriteria penilaian proyek ini hampir serupa dengan penilaian kesiapan PT menuju BHP, yang mencakup unsur-unsur: kesiapan manajemen, kualitas, keberlanjutan, akuntabilitas, efisiensi, dan tanggung jawab sosial.
Git, M14/Pik
Selanjutnya!




