DOSEN PAHLAWAN ORANG MISKIN
Dosen Pahlawan Orang Miskin
Oleh: Supa Atha’na
Secuil kisah sosok Muhammad Yunus (MY), seorang ekonom Bangladesh, ihwal kemenangannya meraih hadiah nobel perdamaian (HNB) 2006. Kunci kesuksesan MY meraih HNB lantaran ia berhasil mengangkat hidup jutaan orang keluar dari kemiskinan dengan konsep kredit kecil (Microcredit) melalui Bank Grameen (BG) yang ia dirikan pada tahun 1970.
Peristiwa pertama kali yang menyentak nurani kemanusiaan dan mengusik gelar supremasi doktoral MY tentang kehidupan masyarakat miskin di saat ia bertemu dengan seorang pengemis wanita, dan juga melihat kondisi masyarakat yang ada di sekitar kampus yang hidup dalam serba kekurangan dan kelaparan. Sejak itu, cahaya Ilahi menginspirasi dan mendesak terus bathinnya untuk memperjuangkan dan mengangkat derajat hidup warga Bangladesh yang dilanda kelaparan itu. Di sela-sela penganugerahan HND tersebut ia mengatakan, ”Kamu tidak bisa berkhayal jauh memiliki sejumlah harta ketika orang lain masih punya problem untuk hidup.”
Perjuangan dan kecintaan MY terhadap kehidupan orang miskin mengantar pikiran kita menjelajahi sejarah, kurang lebih 14 abad yang lalu, dimana ada seorang sahabat Nabi, sepanjang hidupnya diperuntukkan untuk membela orang miskin; Abu Dzar (AD) al-Ghiffari.
Dulunya AD ini, sebelum memeluk agama Islam, pemimpin suku Ghiffar yang merampok para pengusaha multinasional yang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin. Hal pertama yang membuat ia tertarik masuk Islam lantaran mendengar ceritera dari adiknya, Anis, yang baru saja pulang dari Mekkah melihat seorang Nabi yang menurutnya menganut –seperti AD- mengecam penguasa yang sekaligus pengusaha;yang tidak mempunyai kepekaan dan kesetiakawanan sosial.
Jalaluddin Rakhmat (2004) menulis“Pada suatu hari, AD hadir di majelis Khalifah. Khalifah bertanya: ”Setelah menyerahkan zakat, apakah masih ada kewajiban lain?” Kata Kaab:”Tidak, cukuplah zakat itu.” AD memukul dada Kaab:”Engkau dusta, hai anak Yahudi, Allah berfirman: Bukanlah kebaikan itu menghadapkan wajahmu ke barat atau ke timur. Kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, para malaikat, kitab, dan para nabi. Lalu memberikan harta yang dicintainya kepada keluarga dekat, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, para peminta, para tawanan, (dan seterusnya) (Al-Baqarah 177).” Ketika khalifah bertanya bolehkah menggunakan harta kaum Muslim (baca: rakyat. penulis) sekehendaknya, Kaab menjawab boleh. AD marah. Dia memukulkan tongkatnya ke dada Kaab. Khalifah marah. AD diusir ke Syiria. Pemimpin gerakan hidup sederhana ini pun berkemas-kemas dan secepat kilat berangkat ke Syria. Dan ketika berita itu didengar rakyat jelata, mereka pun menyambut kedatangannya dengan semangat menyala penuh kerinduan, dan mengikuti ke mana perginya. “Bicaralah, wahai AD!” kata mereka, ”Bicaralah wahai sahabat Rasulullah.” AD melepaskan pandangan menyelidik ke arah orang-orang yang berkerumun. Dilihatnya kebanyakan mereka orang-orang miskin yang dalam kebutuhan. Lalu dilayangkan pandangannya ke tempat-tempat ketinggian yang tidak jauh letaknya dari sana. Maka tampaklah olehnya gedung-gedung mahligai tinggi. Berserulah dia kepada orang-orang yang berhimpun di sekelilingnya itu: “Saya heran melihat orang-orang yang tidak punya makanan di rumahnya; kenapa tidak mendatangi orang-orang itu dengan menghunus pedangnya.”
Hati AD dan MY, keduanya sama-sama bergetar melihat kemiskinan. AD hidup di masa silam, MY di abad modern. MY memberantas kemiskinan tidak dengan menagih pada orang-orang kaya, ia melakukan observasi, research, perencanaan dan manajemen yang apik dan profesional.
MY memulai kerja keras dengan merumuskan tujuan dasar dari Bank Grameen (BG) ini sebagai institusi yang memberikan dan menyediakan piutang untuk skala rendah bagi orang miskin yang tidak mampu mendapat pinjaman dari bank-bank lainnya. Tahun 70-an, MY punya kesimpulan bahwa konsep pemberian kredit kecil-kecilan (Microcredit) kepada masyarakat miskin pedesaan bisa membebaskan mereka dari perbudakan sejati yang dipraktekkan oleh para tengkulak dan cukong ganas, yang selanjutnya diharapkan secara perlahan membantu dirinya sendiri keluar dari cekikan kemiskinan.
BG, bank desa di Bengali, awalnya sebagai tempat percobaan dari proyek penelitian MY dan rancangan ekonomi pedesaan dari Universitas Chittagong untuk menilai atau mengetes teori MY berkenaan dengan penyediaan kredit dan pelayanan perbankan untuk masyarakat miskin pedesaan. Tahun 1976, ketika rumusan telah mapan, desa Jobra dan desa-desa lainnya yang berdekatan universitas tersebut diputuskan sebagai wilayah utama yang memenuhi syarat untuk pengoperasian dan pelayanan dari konsep BG tadi. Tahun 1983, parlemen mengalihkan statusnya menjadi bank swasta. Dalam pemberian kredit, BG, lebih mengutamakan perempuan. Dari 6, 61 juta peminjam 97 di antaranya adalah perempuan. Pertimbanganya, ia lebih bijak dalam hal pengeluaran uang dan lebih dipercaya dalam pengembalian atau pembayaran utang ketimbang kaum laki-laki.
MY mengaku gerakan altruistik ini, ia telah menghabiskan setengah dari $1.34 juta untuk menghadirkan perusahaan dengan fasilitas berharga rendah, menyediakan makanan bergizi dan rumah sakit mata bagi orang miskin Banglades. Sejak 30 tahun berdirinya perusahaan ini, BG telah punya 6, 61 juta peminjam, memberikan pinjaman sebanyak $5, 72 juta, 2, 226 cabang, meliputi 71, 371 desa dengan total staf 18,795 orang, sementara pembayaran mencapai hingga di atas 98 persen. BG bahkan punya program distribusi pinjaman bebas bunga yang bertaraf sedikit bagi pengemis.
Dari kemenangan MY ini ada hal lain yang bisa disimpulkan, pertama bahwa hubungan antara kemiskinan dan penindasan dengan kekacauan, terorisme punya keterkaitan yang sangat erat. Kemenangan ini menegaskan bahwa hubungan antara kemiskinan dan perang tak bisa dibantah lagi. Mungkin, itulah sehingga Imam Ali Kw. Berkata, ”Seandainya kemiskinan itu bernyawa setiap kali hidup, setiap kali pun kubunuh. Seribu kali hidup seribu kali pula aku membunuhnya”. Kedua, supremasi gelar akademik hanya bisa ditakar dan nilai lewat karya-karya nyata, inovatif, dan berguna bagi masyarakat umum, terutama sekali bisa menolong masyarakat miskin. Ketiga, segala sesuatu bisa dicapai dengan usaha yang keras, kemauan yang kuat, kepercayaan diri, serta dedikasi. Sehingga kita pun optimis bahwa kondisi dunia sekarang ini bisa tampil lebih baik jika dipegang oleh manusia yang memang punya niat dan cita-cita untuk memperbaikinya. Bukan hanya diucapkan oleh lidah tak bertulang, tapi harus dipertegas dengan sikap dan perbuatan, serta diyakinkan dengan pengorbanan dan cinta.
Washington Post, edisi 14 Oktober, mengutip pernyataan MY, "Hadiah ini begitu menggembirakan. Ia akan memengaruhi semangat kerja kami yang luar biasa. Ini akan membawa pengaruh dimana saya sedang membetot perhatian dunia dengan suatu kerja yang beda di dunia.”
Komite Nobel Norwegia mengatakan: “Komite Nobel Norwegia telah memutuskan menyerahkan hadiah nobel perdamaian 2006, atas usahanya menciptakan pengembangan ekonomi dan sosial dari bawah. Perdamaian abadi tidak dapat dicapai kecuali sejumlah kelompok masyarakat menemukan cara untuk menyelesaikan kemiskinan. Kredit rendah (Microcredit) salah satu contoh sarananya. Pengembangan dari bawah merupakan cerminan dari terlaksananya bahkan sebagai jaminan atas adanya kemajuan praktik demokrasi dan perhatian hak-hak asasi manusia (HAM).
Lanjutnya, “MY telah menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang mampu menerjemahkan visi-visi ke bentuk praktis demi kemaslahatan jutaan orang, yang tidak hanya di Bangladesh tetapi juga banyak di negara-negara lain” Lanjutnya lagi, ”visi angka panjang MY bertujuan untuk mengeleminasi kemiskinan di dunia. Visi tersebut tidak bisa dicapai hanya dengan sarana microcredit. Meski demikian, MY dan BG-nya telah menunjukkan bahwa untuk mencapai sesuatu perlu dan menuntut kontinuitas serta harus mengambil peran pada bagian utama dan penting.”
Lantas, bisakah dan maukah kita mengikuti jejak MY yang merasa gelisah dengan kemampuan yang dimilikinya tanpa mampu memberikan kontribusi pada masyarakat lemah untuk menolong dan memperbaiki taraf hidup mereka? Dan sudihkah kita untuk mau sedikit berkorban demi kebahagian orang lain?




